Jumat, 28 September 2012
Catatan Reuni Perak Alumni SMA Negeri 1 Magetan Angkatan 87
Catatan Reuni Perak Alumni SMA Negeri 1 Magetan Angkatan 87
Semua berubah. Itulah kesan awal ketika memasuki gerbang SMA Negeri 1 Magetan beberapa saat sebelum acara reuni perak angkatan 87 dimulai. Sebelum ngisi daftar hadir di pintu masuk aula, sempit terpikir …. gedung aula ini dulunya apa ya….
Maklum, 25 tahun lalu gedung tersebut belum ada. Mungkin dulu kebun yang ada pohon trembesinya, atau lapangan upacara..?
Belum sempat mikir jawaban yang pas, ada tulisan di papan yang menarik perhatian, yakni tulisan di dekat mushola di sebelah lapangan basket (dulu). Terpajang papan putih di atas pintu. ‘ AJA RUMONGSA BISA ANANGING BISAA RUMONGSA’. Itulah bunyi tulisannya.
Banyak lagi yang berubah, temen-temen cewek banyak yang terlihat berbadan jauh lebih lebar dibanding saat memakai baju putih abu-abu dulu, sedangkan teman cowok banyak yang terlihat lebih ganteng dibanding 25 tahun lalu. Hanya, model rambutnya yang bervariasi, ada yang penuh uban, bahkan ada yang nyaris tak berambut. Macam-macam modelnya.
Acara yang seharusnya dimulai jam 09.00 pun dengan senang hati dimolorkan hingga hampir pukul 10.00. Semuanya terlena setelah bertemu ...’mantan’, ’incaran’ .... pujaan sahabat yang dulu. Satu lagi yang berubah menurut catatan saya adalah saat pembacaan doa. Biasanya, kalau pembacaan doa itu dilakukan di akhir acara, tapi di reuni akbar SMAN 1 Magetan angkatan 1987 pada 21 Agustus 2012 itu dilakukan pembacaan doa di awal acara.
Kebetulan saya sendiri yang ’dibajak’ oleh panitia untuk mem baca doa. Dan, dengan segala keterbatasan, bersama 120 rekan seangkatan yang hadir plus mantan bapak dan ibu guru, doa pun dipanjatkan. Doa keselamatan, doa keberkahan, dan tidak lupa juga mendoakan tiga rekan seangkatan yang telah dipanggil Yang Maha Kuasa duluan, yakni Ridlo Setiawan, Didik Suntoro dan Eko Siwi Yuliastri.
Sebetulnya, dalam kepanitiaan reuni, Eko Siwi Yuliastri adalah panitia aktif dalam pelaksanaan reuni, karena, hanya dialah teman angkatan 87 yang mengabdi jadi guru SMAN 1 Magetan. Hanya saja, Yang Kuasa ternyata memanggilnya beberapa minggu sebelum pelaksanaan reuni. (semoga arwahnya diterima disisi Allah SWT.)
Dari mantan guru yang hadir, Pak Syueb yang diberi mandat untuk memberikan kesan dan pesan Renyah...segar dan penuh senyum itulah gaya Pak Syueb. Setelah dipikir-pikir, ternyata pak Syueb itu adalah artis Stun Up Comeedy. Apalagi saat menyanyikan lagu Eomar Bakri.
Sedangkan yang menjadi wakil angkatan 87 yang didaulat ke panggung adalah Leo Herlambang (teman satu bangku-ku saat di kelas 1 SMP, satu kelas saat Kelas 1 SMA dan 4 tahun jadi teman satu kamar saat kuliah di Malang).
Yang istimewa pada reuni akbar 21 Agustus 2012 itu adalah kehadiran Mbak Siti Nasyiah, yang tidak lain adalah istri dari Jusak Sunarjo.
Mbak Siti Nasyiah yang biasa dipanggil dengan Ita (sesuai dengan inisialnya saat jadi wartawan Jawa Pos) adalah penulis buku dan juga jadi ’anak angkat’nya Pak Dahlan Iskan yang saat ini menjadi , Meneg BUMN.
Salah satu buku Mbak Ita berjudul ’Dahlan juga Manusia’ jadi doorprice acara reuni tersebut. Yang menarik, editor dari buku tersebut adalah Alumni SMAN 1 Magetan angkatan 87 yang saat masih berseragam putih abu-abu jadi rocker, yakni Jusak Sunarjo.
Bambang Mbothok yang jadi ketua pelaksana reuni terlihat mondar mandir. Bersama Marsudi bergantian mendampingi para mantan guru yang hadir. Acara berlangsung lama karena ada sesi foto-foto per kelas.
Satu lagi yang menarik adalah penampilan Trio ‘Cantik’ Ugiek-Susi-Ina yang membawakan lagu ..... pertemuan kali ini....dst (enggak tau judulnya yang jelas saya ada rekaman vidionya. Mau?).
Di akhir acara, diadakan pemilihan ketua alumni angkatan 87. Rupanya, dari semua yang hadir banyak memilih Zainal Mutaqin untuk menjadi ketua. Dan inilah, susunan pengurus lengkapnya:
Ketua : Zainal Muttaqin
Wakil Ketua 1 : Priyo Siswoyo
Wakil Ketua 2 : Priyo Puguh Widodo
Sekretaris : Alis Nirnaty Eryn
Bendahara : Ugiek Susilowati
Koordinator Bidang Sosial: Leo Herlambang
Marsudi Widodo
Koordinator Wilayah:
1. Jabodetabek
Ketua : Zaenal Muttaqin
Wakil : Tutik Tri Hastuti
2. Surabaya, Mojokerto, Kediri dan Sekitarnya
Ketua : Bambang Sucahyo
Wakil : Djaka Moeliatmojati
3. Magetan, Madiun, Ponorogo, Ngawi, Solo dan Sekitarnya
Ketua : Anwar Sidiq
Wakil : Nurhadi Zainudin
Selasa, 15 Februari 2011
Tahun 2011, Roadshow Jurnalistik Dimulai dari MAN 1 Kota Bogor
Kemeriahan road show jurnalistik di sekolah Kota Bogor kembali terasa di tahun 2011 ini. Kali ini giliran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Bogor.
Mulai dari pukul 08.00 sampai 15.00 acara pelatihan jurnalistik digelar secara maraton dipadu dengan marching band, marawis, nasyid, jaipongan.
Peran ekskul Gajaman’s (Gabungan Jurnalis MAN 1) juga dominan. Mereka berkolaborasi dengan para pembicara pelatihan media cetak dan televisi untuk mensukseskan acara tersebut. Para jurnalis pelajar MAN memang sudah dikenal di Bogor, Bahkan, mereka menjadi motor terbentuknya jurnalis community di Kota Bogor pada tahun 2010 lalu.
Khusus untuk peserta pelatihan jurnalistik, tidak hanya siswa dari MAN 1 saja yang ikut. Tapi juga dari sekolah lain di lingkungan Departemen Agama juga diikutsertakan. Untuk materi jurnalistik media tevelisi disampaikan oleh Suwardi Rosadi dari Trans 7 dan Iwan Kurniawan dari Indosiar. Sedangkan untuk materi Jurnalistik Media Cetak disampaikan oleh M Affandi, Pelaksana Tugas Pimred Sundaurang dan Asri Supatmiati, Redpel Radar Bogor yang juga penulis buku.
Setelah acara dibreak untuk istirahat dan sholat dhuhur. Acara makin riuh dengan tampilnya berbagai band. Bahkan, untuk saba sakola di MAN 1 ini selain menampilkan band-band tamu biasa sperti D caretifive band, superboy, breeland dan Litium juga ada band dari Bandung yakni The Gampangan yang sengaja mampir memeriahkan roadshow sebelum mereka tampil di Ancol. (affandi)
Mulai dari pukul 08.00 sampai 15.00 acara pelatihan jurnalistik digelar secara maraton dipadu dengan marching band, marawis, nasyid, jaipongan.
Peran ekskul Gajaman’s (Gabungan Jurnalis MAN 1) juga dominan. Mereka berkolaborasi dengan para pembicara pelatihan media cetak dan televisi untuk mensukseskan acara tersebut. Para jurnalis pelajar MAN memang sudah dikenal di Bogor, Bahkan, mereka menjadi motor terbentuknya jurnalis community di Kota Bogor pada tahun 2010 lalu.
Khusus untuk peserta pelatihan jurnalistik, tidak hanya siswa dari MAN 1 saja yang ikut. Tapi juga dari sekolah lain di lingkungan Departemen Agama juga diikutsertakan. Untuk materi jurnalistik media tevelisi disampaikan oleh Suwardi Rosadi dari Trans 7 dan Iwan Kurniawan dari Indosiar. Sedangkan untuk materi Jurnalistik Media Cetak disampaikan oleh M Affandi, Pelaksana Tugas Pimred Sundaurang dan Asri Supatmiati, Redpel Radar Bogor yang juga penulis buku.
Setelah acara dibreak untuk istirahat dan sholat dhuhur. Acara makin riuh dengan tampilnya berbagai band. Bahkan, untuk saba sakola di MAN 1 ini selain menampilkan band-band tamu biasa sperti D caretifive band, superboy, breeland dan Litium juga ada band dari Bandung yakni The Gampangan yang sengaja mampir memeriahkan roadshow sebelum mereka tampil di Ancol. (affandi)
Sabtu, 25 Desember 2010
Ada Tumpeng dan Balon saat Roadshow Jurnalistik di SMAN 8
Ada yang spesial saat road show jurnalistik di SMA Negeri 8 Kota Bogor pada Rabu 22 Desember 2010 lalu. Pihak sekolah yang dipilih menjadi lokasi road show menyediakan tumpeng besar. Maklum, saat itu bertepatan dengan ulang tahun SMA N 8 yang ke 18 tahun. Selain itu, juga sebagai tanda berakhirnya rangkaian acara Saba Sakolah Sundaurang di tahun 2010 ini.
Menurut Kepala SMAN 8, Budi Rohman, kehadiran tim Saba Sakola merupakan kado termanis di ulang tahun sekolah tersebut.Setelah memotong tumpeng, Budi Rohman juga melepas balon ke udara sebagai tanda dimulainya rangkaian acara di hari itu. Ratusan siswa siswi bergiliran menampilan kebolehannya. Mulai dari Paskibra, Marawis, PMR, Kateda, Teater hingga pameran lukisan dan bazar makanan.
Untuk sesi pelatihan jurnalistik media televisi, pembicaranya adalah Usep Sarifudin dari AN TV dan Dedi Jumhana dari Trans TV. Sedangkan untuk materi Jurnalistik Media Cetak disampaikan Muh Affandi Kartodihardjo, Pelaksa Tugas (PLT) pimpinan Redaksi Tabloid Sundaurang.
Tim roadshow juga membawa band-band indie berbabakat sepert D Caretie Five, Breeland, Litium band. Mereka tampil bergantian dengan band sekolah seperti Troublesome, The Kadal Ijo, Rege regean, Sky Life, First nad Last, dan Demon Seduction band.
Atraksi sepeda dari Komunitas BMX cukup memukau, begitu juga dengan audisi cover untuk tabloid Sundaurang. Pihak Yamaha GP Sentul menyediakan motor untuk test ride sekaligus untuk kepentingan pemotretan. Acara yang tidak kalah serunya adalah saat anak-anak teater SMAN 8 beraksi. Acara yang dimulai pagi hari tersebut makin siang makin meriah, bahkan cukup heboh menjelang sore, ketika dancer beraksi. (affandi)
Menurut Kepala SMAN 8, Budi Rohman, kehadiran tim Saba Sakola merupakan kado termanis di ulang tahun sekolah tersebut.Setelah memotong tumpeng, Budi Rohman juga melepas balon ke udara sebagai tanda dimulainya rangkaian acara di hari itu. Ratusan siswa siswi bergiliran menampilan kebolehannya. Mulai dari Paskibra, Marawis, PMR, Kateda, Teater hingga pameran lukisan dan bazar makanan.
Untuk sesi pelatihan jurnalistik media televisi, pembicaranya adalah Usep Sarifudin dari AN TV dan Dedi Jumhana dari Trans TV. Sedangkan untuk materi Jurnalistik Media Cetak disampaikan Muh Affandi Kartodihardjo, Pelaksa Tugas (PLT) pimpinan Redaksi Tabloid Sundaurang.
Tim roadshow juga membawa band-band indie berbabakat sepert D Caretie Five, Breeland, Litium band. Mereka tampil bergantian dengan band sekolah seperti Troublesome, The Kadal Ijo, Rege regean, Sky Life, First nad Last, dan Demon Seduction band.
Atraksi sepeda dari Komunitas BMX cukup memukau, begitu juga dengan audisi cover untuk tabloid Sundaurang. Pihak Yamaha GP Sentul menyediakan motor untuk test ride sekaligus untuk kepentingan pemotretan. Acara yang tidak kalah serunya adalah saat anak-anak teater SMAN 8 beraksi. Acara yang dimulai pagi hari tersebut makin siang makin meriah, bahkan cukup heboh menjelang sore, ketika dancer beraksi. (affandi)
Jumat, 17 Desember 2010
Hujan Pagi-Siang Bikin Road Show Jurnalistik makin Unik
Usai mengikuti ujian akhir semester (UAS), ratusan siswa SMK Tri Dharma (TD) 2 dan 4 Kota Bogor mendapat kunjungan dari tim road show Saba Sakola pada Kamis 16 Desember 2010 lalu.
Sambutan luar biasa terasa benar, meski pagi hari Kota Bogor diguyur hujan, tidak mengurangi minat mereka untuk mengikuti berbagai acara menarik yang telah disiapkan. Mereka tetap tampil meski gerimis mengucur. Beberapa kali acara terhenti saat hujan deras, namun ketika mulai reda dilanjutkan kembali. Bahkan, makin siang, makin semarak.
Karena tim roadshow berkolaborasi dengan dua sekolah sekaligus, maka konsentrasi acara dipecah di tiga lokasi. Satu di lapangan olahraga bagian luar untuk penampilan ekstrakurikuler (ekskul) dan bazar makanan. Sedangkan di halaman dalam, digunakan untuk mementaskan kesenian dari sekolah, band sekolah maupun band tamu. Sementara untuk pelatihan jurnalistik mengambil tempat di aula sekolah.
Kepala SMK Tri Dharma 4, Asis Taviyudin, menilai, road show yang digagas oleh tabloid Sunda Urang ini bagus untuk memberikan penyegaran kepada siswa. Apalagi bagi siswa kelas 12, sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional (UN) pada April mendatang. “Kebetulan mereka habis ulangan akhir semester, jadi ada penyegaran," katanya.
Performance masing-masing ekskul ditampilkan di acara ini. Selain itu, para guru tidak ingin ketinggalan memeriahkan Saba Sakola. Mereka pun ingin mempertontonkan keahliannya dalam bermain musik.
Sementara itu, untuk acara pelatihan jurnalistik media televisinya diisi oleh Usep sarifuddin dari AN TV dan Iwan Kurniawan dari Indosiar, sementara untuk jurnalistik media cetaknya disampaikan oleh Asri Supatmiati, Redaktur Pelaksana Radar Bogor dan Muh Affandi, Pelaksana Tugas Pimred Tabloid Sundaurang.
Sambutan luar biasa terasa benar, meski pagi hari Kota Bogor diguyur hujan, tidak mengurangi minat mereka untuk mengikuti berbagai acara menarik yang telah disiapkan. Mereka tetap tampil meski gerimis mengucur. Beberapa kali acara terhenti saat hujan deras, namun ketika mulai reda dilanjutkan kembali. Bahkan, makin siang, makin semarak.
Karena tim roadshow berkolaborasi dengan dua sekolah sekaligus, maka konsentrasi acara dipecah di tiga lokasi. Satu di lapangan olahraga bagian luar untuk penampilan ekstrakurikuler (ekskul) dan bazar makanan. Sedangkan di halaman dalam, digunakan untuk mementaskan kesenian dari sekolah, band sekolah maupun band tamu. Sementara untuk pelatihan jurnalistik mengambil tempat di aula sekolah.
Kepala SMK Tri Dharma 4, Asis Taviyudin, menilai, road show yang digagas oleh tabloid Sunda Urang ini bagus untuk memberikan penyegaran kepada siswa. Apalagi bagi siswa kelas 12, sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional (UN) pada April mendatang. “Kebetulan mereka habis ulangan akhir semester, jadi ada penyegaran," katanya.
Performance masing-masing ekskul ditampilkan di acara ini. Selain itu, para guru tidak ingin ketinggalan memeriahkan Saba Sakola. Mereka pun ingin mempertontonkan keahliannya dalam bermain musik.
Sementara itu, untuk acara pelatihan jurnalistik media televisinya diisi oleh Usep sarifuddin dari AN TV dan Iwan Kurniawan dari Indosiar, sementara untuk jurnalistik media cetaknya disampaikan oleh Asri Supatmiati, Redaktur Pelaksana Radar Bogor dan Muh Affandi, Pelaksana Tugas Pimred Tabloid Sundaurang.
Selasa, 07 Desember 2010
Ada Broadcast, Ada Pula Angkat Besi saat Pelatihan Jurnalistik di SMA Negeri 4 Bogor
Meski materi jurnalistik media cetak dan televisi yang disampaikan di tiap sekolah mirip-mirip, namun tetap saja ada suasana baru di tiap lokasi pelatihan. Apalagi saat tim Saba Sakola Sundaurang mengunjungi SMA Negeri 4 Kota Bogor.
Di sekolah yang dikenal dengan sekolahnya para atlet tersebut disajikan berbagai atraksi yang memukau, mulai dari tae kwondo, dance, band sampai angkat besi.Jadi, senantiasa terlihat menarik. Maklum siswa di sekolah ini banyak yang menjuarai kejuaraan di bidang olahraga seperti renang, tae kwondo, karate untuk berbagai kejuaraan baik di tingkat Bogor maupun propinsi dan nasional.
Siswa dan siswi di sekolah tersebut diberi kebebasan untuk menggali kemampuannya sesuai dengan bakat dan minatnya. Akhirnya, banyak ekskul bermunculan, termasuk ekskul yang dianggap tidak biasa seperti angkat besi, dansa dam broadcast.
“Berbagai kegiatan sengaja diberikan pada anak yang sekolah di sini. Pembimbingnya bisa dari intern guru yang ada di sini, juga dari luar dan alumni, kata Maman Suherman, kepala sekolah SMA Negeri 4.
Atraksi dari komunitas sepeda BMX tetap memukau meski dilakukaan saat gerimis turun. Beberapa personil BMX terliat kepleset saat atraksi. Namun, tetap saja keren. Sedangkan skateboard tidak bisa tampil karena lapangan yang ada di sekolah tersebut terbuat dari paving block.
Untuk sesi pelatihan jurnalistik, yang menjadi narasumber adalah Eko Hadi dari TV One dan Apeng Wijaya dari Megaswara Televisi. Sedangkan materi tentang jurnalistik media cetak diisi oleh Muh Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pimred Tabloid Sundaurang bersama dengan Asri Supatmiati, redaktur pelaksana Harian Radar Bogor yang juga penulis beberapa buku.
Pihak sponsor yakni Yamaha Putera Motor juga menyediakan motor untuk test ride. Beberapa game juga digelar, termasuk dari LPK Nusantara yang juga masuk dalam pendukung tim roadshow
Di sekolah yang dikenal dengan sekolahnya para atlet tersebut disajikan berbagai atraksi yang memukau, mulai dari tae kwondo, dance, band sampai angkat besi.Jadi, senantiasa terlihat menarik. Maklum siswa di sekolah ini banyak yang menjuarai kejuaraan di bidang olahraga seperti renang, tae kwondo, karate untuk berbagai kejuaraan baik di tingkat Bogor maupun propinsi dan nasional.
Siswa dan siswi di sekolah tersebut diberi kebebasan untuk menggali kemampuannya sesuai dengan bakat dan minatnya. Akhirnya, banyak ekskul bermunculan, termasuk ekskul yang dianggap tidak biasa seperti angkat besi, dansa dam broadcast.
“Berbagai kegiatan sengaja diberikan pada anak yang sekolah di sini. Pembimbingnya bisa dari intern guru yang ada di sini, juga dari luar dan alumni, kata Maman Suherman, kepala sekolah SMA Negeri 4.
Atraksi dari komunitas sepeda BMX tetap memukau meski dilakukaan saat gerimis turun. Beberapa personil BMX terliat kepleset saat atraksi. Namun, tetap saja keren. Sedangkan skateboard tidak bisa tampil karena lapangan yang ada di sekolah tersebut terbuat dari paving block.
Untuk sesi pelatihan jurnalistik, yang menjadi narasumber adalah Eko Hadi dari TV One dan Apeng Wijaya dari Megaswara Televisi. Sedangkan materi tentang jurnalistik media cetak diisi oleh Muh Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pimred Tabloid Sundaurang bersama dengan Asri Supatmiati, redaktur pelaksana Harian Radar Bogor yang juga penulis beberapa buku.
Pihak sponsor yakni Yamaha Putera Motor juga menyediakan motor untuk test ride. Beberapa game juga digelar, termasuk dari LPK Nusantara yang juga masuk dalam pendukung tim roadshow
Minggu, 28 November 2010
Atraksi Sepeda BMX dan Skateboard Meriahkan Pelatihan Jurnalistik di SMA Plus YPHB
Pelaksanaan roadshow jurnalistik Media Cetak dan Televisi makin hari makin meriah. Setidaknya itulah yang terlihat saat tim roadshow yang didukung oleh Yamaha dan Dinas Pendidikan Kota Bogor itu mengadakan acara di SMA Plus Yayasan Persaudaraan Haji (YPHB) Kota Bogor.
SMA Plus YPHB tersebut merupakan lokasi ke-enam yang disinggahi tim roadshow. Materi jurnalistik yang disampaikan sebenarnya mirip dengan yang disampaikan di beberapa tempat sebelumnya. Namun, kali ini, terlihat beda karena dilakukan di hadapan ratusan siswi berkerudung dan siswa yang hampir semuanya memakai baju koko. Maklum, pelaksanaan Saba Sakola di tempat ini dilaksanakan di hari Jumat (26 November 2010).
Pembicara dari media cetak masih sama yakni Asri Supatmiati (Redaktur Pelaksana Radar Bogor ) bersama dengan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas (Plt) Pemimpin Redaksi Tabloid Sundaurang. Sedangkan narasumber dari Media Televisi disampaikan oleh Heru Yustanto dari MNC dan Dedi dari Trans-TV.
Kemasan acara makin menarik karena dipadu dengan berbagai unjuk kemampuan. Atraksi dari komunitas sepeda BMX dan skateboard dari IPB Skateboard Corner masih merebut perhatian. Apalagi saat atraksi sepeda BMX yang melewati rintangan hidup berupa orang yang rebahan di lantai. Tepuk tangan dari ratusan siswi berkerudung itu terus-terusan terdengar.
Tidak kalah menariknya saat digelar tari jaipong dan band bawaan dari tim roadshow. Mereka tampil bergantian dengan performance masing-masing ekskul yang ada di sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Persaudaraan Haji Bogor tersebut, seperti paskibra, futsal, paduan suara, band, tari baik tradisioanl maupun modern
dance, degung atau karawitan, bola voli, angklung, photografi, basket, teater.
Acara dibreak ketika waktu sholat Jumat. Semua siswa, guru, dan anggota tim road show sholat Jumat bareng di Masjid sekolah yang ada di lantai 2 kompleks sekolah tersebut. Setelah istirahan sebentar, acara dimulai lagi hingga usai pukul 14.30.
SMA Plus YPHB tersebut merupakan lokasi ke-enam yang disinggahi tim roadshow. Materi jurnalistik yang disampaikan sebenarnya mirip dengan yang disampaikan di beberapa tempat sebelumnya. Namun, kali ini, terlihat beda karena dilakukan di hadapan ratusan siswi berkerudung dan siswa yang hampir semuanya memakai baju koko. Maklum, pelaksanaan Saba Sakola di tempat ini dilaksanakan di hari Jumat (26 November 2010).
Pembicara dari media cetak masih sama yakni Asri Supatmiati (Redaktur Pelaksana Radar Bogor ) bersama dengan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas (Plt) Pemimpin Redaksi Tabloid Sundaurang. Sedangkan narasumber dari Media Televisi disampaikan oleh Heru Yustanto dari MNC dan Dedi dari Trans-TV.
Kemasan acara makin menarik karena dipadu dengan berbagai unjuk kemampuan. Atraksi dari komunitas sepeda BMX dan skateboard dari IPB Skateboard Corner masih merebut perhatian. Apalagi saat atraksi sepeda BMX yang melewati rintangan hidup berupa orang yang rebahan di lantai. Tepuk tangan dari ratusan siswi berkerudung itu terus-terusan terdengar.
Tidak kalah menariknya saat digelar tari jaipong dan band bawaan dari tim roadshow. Mereka tampil bergantian dengan performance masing-masing ekskul yang ada di sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Persaudaraan Haji Bogor tersebut, seperti paskibra, futsal, paduan suara, band, tari baik tradisioanl maupun modern
dance, degung atau karawitan, bola voli, angklung, photografi, basket, teater.
Acara dibreak ketika waktu sholat Jumat. Semua siswa, guru, dan anggota tim road show sholat Jumat bareng di Masjid sekolah yang ada di lantai 2 kompleks sekolah tersebut. Setelah istirahan sebentar, acara dimulai lagi hingga usai pukul 14.30.
Sabtu, 20 November 2010
Pelatihan Jurnalistik ‘Adumanis’ dengan Rampak Kendang
Lain sekolah lain pula keunggulannya. Itulah yang dirasakan tim Roadshow Jurnalistik Media Cetak dan Televisi saat menyelenggarakan acara di SMA Rimba Madya Kota Bogor. Di sekolah dengan jumlah murid lebih dari 900 siswa tersebut pelatihan jurnalistiknya dipadumaniskan dengan atraksi Rampak Kendang , Jaipong dan Kaulinan Tradisional Sunda.
Kaulinan ‘kemasan’ SMA Rimba Madya ini memang cukup dikenal, karena di tahun 2010 ini telah terbukti menjadi kaulinan terbaik se-Jawa Barat. Perpaduan berbagai permainan tradisional seperti egrang, congklak dan beberapa jenis permainan tradisional yang dikemas mirip opera tersebut pernah menjadi juara pertama di tingkat propinsi Jawa Barat.
Sementara dari sisi pelatihan jurnalistiknya juga ada warna lain, jika sebelumnya hanya membahas media cetak dan televisi. Tapi, waktu pelaksanaan pelatihan pada Sabtu 20 November 2010 itu ditambah dengan materi soal jurnalistik radio dengan menghadirkan Benny Akbar dari Radio Elshinta.
Untuk materi jurnalistik televisinya disampaikan oleh Endang Gunawan dari Global TV yang juga ketua FWHB. Sedangkan untuk jurnalistik cetaknya, Asri Supatmiati (Redaktur Pelaksana Radar Bogor) dan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pimred Tabloid Sundaurang masih menjadi narasumber.
“Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kemauan dan mau mengasah kemampuannya. Jika sering berlatih, maka keterampilan dalam menulis pasti makin baik ,” kata Asri, yang juga dikenal sebagai penulis beberapa buku seperti ‘The World of Me’, ‘Cewek Buka Bukaan’ , dan ‘Indonesia dalam Dekapan Syahwat’ tersebut .
Tim roadshow juga bertambah dengan ikut sertanya Kartika Five Band, Antiponi Band, dan Komunitas BMX serta dari Sanggar Seni Getar Pakuan. Berbagai atraksi dari anggota tim yang baru tersebut tampil bergantian dengan anggota tim lain yang sudah ada sebelumnya seperti atraksi dari Skateboard IPB Corner, dan penampilan berbagai ekskul dari sekolah tersebut.
Bahkan, semua yang bergabung di acara tersebut dikejutkan dengan meluncurnya beberapa siswa dari atas genting. Meski meluncurnya para pelajar tersebut masih memakai tali, namun atraksi dari club pecinta alam asal SMA Rimba itu benar-benar membuat acara makin meriah.
Seperti biasa, pihak Yamaha yang dalam even di SMA Rimba Madya ini diwakili oleh Yamaha Muas Motor sebagai sponsor acara ini juga menggelar safety ridding dan test ride. Bahkan mereka juga didaulat untuk menadi juri pada audisi cover untuk tabloid Sundaurang. (affandi)
Kaulinan ‘kemasan’ SMA Rimba Madya ini memang cukup dikenal, karena di tahun 2010 ini telah terbukti menjadi kaulinan terbaik se-Jawa Barat. Perpaduan berbagai permainan tradisional seperti egrang, congklak dan beberapa jenis permainan tradisional yang dikemas mirip opera tersebut pernah menjadi juara pertama di tingkat propinsi Jawa Barat.
Sementara dari sisi pelatihan jurnalistiknya juga ada warna lain, jika sebelumnya hanya membahas media cetak dan televisi. Tapi, waktu pelaksanaan pelatihan pada Sabtu 20 November 2010 itu ditambah dengan materi soal jurnalistik radio dengan menghadirkan Benny Akbar dari Radio Elshinta.
Untuk materi jurnalistik televisinya disampaikan oleh Endang Gunawan dari Global TV yang juga ketua FWHB. Sedangkan untuk jurnalistik cetaknya, Asri Supatmiati (Redaktur Pelaksana Radar Bogor) dan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pimred Tabloid Sundaurang masih menjadi narasumber.
“Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kemauan dan mau mengasah kemampuannya. Jika sering berlatih, maka keterampilan dalam menulis pasti makin baik ,” kata Asri, yang juga dikenal sebagai penulis beberapa buku seperti ‘The World of Me’, ‘Cewek Buka Bukaan’ , dan ‘Indonesia dalam Dekapan Syahwat’ tersebut .
Tim roadshow juga bertambah dengan ikut sertanya Kartika Five Band, Antiponi Band, dan Komunitas BMX serta dari Sanggar Seni Getar Pakuan. Berbagai atraksi dari anggota tim yang baru tersebut tampil bergantian dengan anggota tim lain yang sudah ada sebelumnya seperti atraksi dari Skateboard IPB Corner, dan penampilan berbagai ekskul dari sekolah tersebut.
Bahkan, semua yang bergabung di acara tersebut dikejutkan dengan meluncurnya beberapa siswa dari atas genting. Meski meluncurnya para pelajar tersebut masih memakai tali, namun atraksi dari club pecinta alam asal SMA Rimba itu benar-benar membuat acara makin meriah.
Seperti biasa, pihak Yamaha yang dalam even di SMA Rimba Madya ini diwakili oleh Yamaha Muas Motor sebagai sponsor acara ini juga menggelar safety ridding dan test ride. Bahkan mereka juga didaulat untuk menadi juri pada audisi cover untuk tabloid Sundaurang. (affandi)
Sabtu, 13 November 2010
Marching Band dan Modeling Warnai Pelatihan Jurnalistik di Taruna Andhiga
Talkshow jurnalistik media cetak dan televisi dipadu dengan marching band dan modeling, itulah yang terjadi di SMA-SMK Taruna Andigha Kota Bogor Sabtu 13 November 2010 lalu. Tidak itu saja, ekskul-ekskul lainnya juga ditampilkan di sekolah dengan murid sekitar 3000 siswa tersebut.
SMA-SMK-SMP Taruna Andhiga merupakan titik ke-4 pelaksanan roadshow jurnalistik yang diadakan oleh Tabloid Sundaurang (Grup Radar Bogor). Selain menampilkan band sekolah, atraksi skateboard, unjuk kebolehan ekskul kateda, teater, di sekolah dalam naungan Yayasan Ibnu Hajar tersebut juga menampilkan kontes modeling serta marching band.
Formasi-formasi yang ditampilkan grup marching band tersebut begitu memukau, penuh semangat, apalagi langsung disambung dengan atraksi dari grup paskibra, dance, jaipong dan band tamu.
Konsentrasi peserta pelatihan jurnalistik sedikit terpecah. Beberapa siswa terlihat mengintip dari jendela, namun, gaya penyampaian materi jurnalistik televisi yang disampaikan Usep Saripudin dari ANTV mampu mengembalikan konsentrasi peserta untuk terus mengikuti pelatihan.
Apalagi, saat Suwardi Rosadi dari Trans 7 mempraktekkan cara pengambilan gambar dan mengajari cara wawancara di depan kamera televisi. Semua peserta terlena, karena semua materi yang disajikan dan cara praktek dilakukan mirip dengan apa yang dilakukan oleh kameramen televisi profesional.
”Orang cantik belum tentu terlihat cantik saat di kamera, begitu juga sebaliknya, orang yang kelihatannya biasa-biasa saja bisa saja terlihat cantik saat dishoot kamera,” jelas Rosadi yang kini jadi pembina FWHB ini.
Di kelas jurnalistik TV tersebut, Rosadi memberi waktu 5 menit kepada siswa pelatihan untuk bebas bertindak apa saja. Mereka dirangsang untuk mengaktifkan otak kanan dengan cara membebaskan siswa untuk bertindak apa saja selama lima menit.
Namun, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Para peserta tersebut masih malu-malu untuk berbuat bebas. ”Inilah budaya orang timur. Diberi kebebasan untuk berbuat apa saja untuk melatih otak kanan. Tapi, masih malu-malu,”kata Rosadi.
Sementara, dari sisi jurnalistik media cetak, Asri Supatmiati, redaktur pelaksana Radar Bogor yang juga penulis buku memberikan gambaran kerja seorang jurnalist media cetak. Menurut Ami, nama panggilan dari penulis buku ’The World of Me, Cewek Buka Bukaan , dan Indonesia dalam Dekapan Syahwat’ tersebut untuk berlatih menulis tidak harus menunggu jadi wartawan.
”Saat ini di Radar Bogor ada rubrik yang namanya Gerbang Sekolah yang isinya sekitar kegiatan sekolah, dan ditulis langsung oleh anak sekolah. Rubrik ini bisa dimanfaatkan untuk belajar bikin berita,” katanya.
Sedangkan pembicara dari media cetak lainnya, yakni M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pemimpin Redaksi Tabloid Sundaurang lebih banyak menjelaskan bagaimana media cetak diproduksi. Rangkaian kegiatan mulai dari pencarian berita atau naskah,editing, layout, montage sampai masuk ke mesin cetak hingga jadi produk berbentuk koran atau tabloid dijelaskannya.
Selain itu, dia juga menularkan ’virus’ menulis kepada siswa yang ikut pelatihan tersebut. ”Ikatlah ilmu dengan jalan menuliskannya, dan apa yang kita tulis saat ini, bisa dibaca oleh generasi yang akan datang. Sebab, tulisan itu bisa menembus ruang dan waktu,” katanya.(fan)
SMA-SMK-SMP Taruna Andhiga merupakan titik ke-4 pelaksanan roadshow jurnalistik yang diadakan oleh Tabloid Sundaurang (Grup Radar Bogor). Selain menampilkan band sekolah, atraksi skateboard, unjuk kebolehan ekskul kateda, teater, di sekolah dalam naungan Yayasan Ibnu Hajar tersebut juga menampilkan kontes modeling serta marching band.
Formasi-formasi yang ditampilkan grup marching band tersebut begitu memukau, penuh semangat, apalagi langsung disambung dengan atraksi dari grup paskibra, dance, jaipong dan band tamu.
Konsentrasi peserta pelatihan jurnalistik sedikit terpecah. Beberapa siswa terlihat mengintip dari jendela, namun, gaya penyampaian materi jurnalistik televisi yang disampaikan Usep Saripudin dari ANTV mampu mengembalikan konsentrasi peserta untuk terus mengikuti pelatihan.
Apalagi, saat Suwardi Rosadi dari Trans 7 mempraktekkan cara pengambilan gambar dan mengajari cara wawancara di depan kamera televisi. Semua peserta terlena, karena semua materi yang disajikan dan cara praktek dilakukan mirip dengan apa yang dilakukan oleh kameramen televisi profesional.
”Orang cantik belum tentu terlihat cantik saat di kamera, begitu juga sebaliknya, orang yang kelihatannya biasa-biasa saja bisa saja terlihat cantik saat dishoot kamera,” jelas Rosadi yang kini jadi pembina FWHB ini.
Di kelas jurnalistik TV tersebut, Rosadi memberi waktu 5 menit kepada siswa pelatihan untuk bebas bertindak apa saja. Mereka dirangsang untuk mengaktifkan otak kanan dengan cara membebaskan siswa untuk bertindak apa saja selama lima menit.
Namun, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik. Para peserta tersebut masih malu-malu untuk berbuat bebas. ”Inilah budaya orang timur. Diberi kebebasan untuk berbuat apa saja untuk melatih otak kanan. Tapi, masih malu-malu,”kata Rosadi.
Sementara, dari sisi jurnalistik media cetak, Asri Supatmiati, redaktur pelaksana Radar Bogor yang juga penulis buku memberikan gambaran kerja seorang jurnalist media cetak. Menurut Ami, nama panggilan dari penulis buku ’The World of Me, Cewek Buka Bukaan , dan Indonesia dalam Dekapan Syahwat’ tersebut untuk berlatih menulis tidak harus menunggu jadi wartawan.
”Saat ini di Radar Bogor ada rubrik yang namanya Gerbang Sekolah yang isinya sekitar kegiatan sekolah, dan ditulis langsung oleh anak sekolah. Rubrik ini bisa dimanfaatkan untuk belajar bikin berita,” katanya.
Sedangkan pembicara dari media cetak lainnya, yakni M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pemimpin Redaksi Tabloid Sundaurang lebih banyak menjelaskan bagaimana media cetak diproduksi. Rangkaian kegiatan mulai dari pencarian berita atau naskah,editing, layout, montage sampai masuk ke mesin cetak hingga jadi produk berbentuk koran atau tabloid dijelaskannya.
Selain itu, dia juga menularkan ’virus’ menulis kepada siswa yang ikut pelatihan tersebut. ”Ikatlah ilmu dengan jalan menuliskannya, dan apa yang kita tulis saat ini, bisa dibaca oleh generasi yang akan datang. Sebab, tulisan itu bisa menembus ruang dan waktu,” katanya.(fan)
Senin, 08 November 2010
Gamelan dan Freestile Bola Ramaikan Pelatihan Jurnalistik di SMA Plus BBS
Atraksi gamelan dan free stile bola futsal memberi warna lain pelatihan jurnalistik media cetak dan televisi yang berlangsung di SMA Bina Bangsa Sejahtera (BBS) Senin 8 November 2010. Gamelan merupakan salah satu ekskul yang sedang dikembangkan di sekolah tersebut, sedangkan futsal dari SMA BBS sudah cukup dikenal, bahkan pernah menjadi juara 2 tingkat nasional.
Dalam acara 'Saba Sekolah' yang diselenggarakan Tabloid Sundaurang ini. Materi jurnalistik media televisi dibawakan oleh Eko Hadi dari TV One dan Apeng Wijaya dari Megaswara TV, sedangkan penyampai materi media cetak adalah Asri Supatmiati, redpel Radar Bogor bersama dengan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pemimpin Redaksi Sundaurang.
Acara semakin semarak saat siswa-siswi SMA BBS diajak praktik pengambilan gambar dan wawancara. Eko Hadi mengungkapkan bahwa saat ini adalah eranya citizen jurnalism, artinya semua orang bisa membuat peliputan. “Di TV One rekaman gambar dari masyarakat diterima. Makanya ada sesion Kabar dari Anda,” kata Eko yang juga menjadi ketua divisi Litbangnya FWHB tersebut.
Paduan antara pelatihan jurnalistik dengan berbagai pertunjukan ekskul tersebut berlangsung dari pagi hingga sore. Ikut memeriahkan acara tersebut adalah atraksi dari anak-anak IPB Skateboard Corner dan band tamu Kartika Five serta game-game dari The Jungle, STIAMI, LPK Nusantara dan test ride dari Yamaha Prihatin Motor.
Kepala SMA BBS Syabar Suwardiman mengungkapkan, kegiatan seperti ini merupakan pembelajaran bagi siswa. “Proses belajar memang tidak hanya di kelas. Tapi acara di luar seperti ini juga bentuk lain dari pembelajaran,” jelas Syabar.
Dalam acara 'Saba Sekolah' yang diselenggarakan Tabloid Sundaurang ini. Materi jurnalistik media televisi dibawakan oleh Eko Hadi dari TV One dan Apeng Wijaya dari Megaswara TV, sedangkan penyampai materi media cetak adalah Asri Supatmiati, redpel Radar Bogor bersama dengan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas Pemimpin Redaksi Sundaurang.
Acara semakin semarak saat siswa-siswi SMA BBS diajak praktik pengambilan gambar dan wawancara. Eko Hadi mengungkapkan bahwa saat ini adalah eranya citizen jurnalism, artinya semua orang bisa membuat peliputan. “Di TV One rekaman gambar dari masyarakat diterima. Makanya ada sesion Kabar dari Anda,” kata Eko yang juga menjadi ketua divisi Litbangnya FWHB tersebut.
Paduan antara pelatihan jurnalistik dengan berbagai pertunjukan ekskul tersebut berlangsung dari pagi hingga sore. Ikut memeriahkan acara tersebut adalah atraksi dari anak-anak IPB Skateboard Corner dan band tamu Kartika Five serta game-game dari The Jungle, STIAMI, LPK Nusantara dan test ride dari Yamaha Prihatin Motor.
Kepala SMA BBS Syabar Suwardiman mengungkapkan, kegiatan seperti ini merupakan pembelajaran bagi siswa. “Proses belajar memang tidak hanya di kelas. Tapi acara di luar seperti ini juga bentuk lain dari pembelajaran,” jelas Syabar.
Sabtu, 06 November 2010
Marawis dan Atraksi Paskibra Ramaikan Pelatihan Jurnalistik di SMANIC
Ada yang lain saat pelatihan jurnalistik media cetak dan televisi di SMA Negeri 1 Ciampea (SMANIC) Kabupaten Bogor pada Sabtu (5/11) lalu. Acara yang berlangsung dari pagi sampai sore tersebut dipadu dengan atraksi formasi-formasi baru dari Paskibra, Marawis, dance, dan atraksi dari ekskul-ekskul yang ada di sekolah tersebut.
Narasumber dari media cetak adalah Asri Supatmiati, redaktur pelaksana Harian Radar Bogor dan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas pemimpin Redaksi Tabloid Sundaurang. Sedangkan materi yang berkaitan dengan media televisi dibawakan oleh Iwan Suryawan dari Indosiar dan Heru Yustanto dari MNC.
Para sponsor acara ini juga membuka stand dan game, seperti yang dilakukan Prihatin Motor. Diler resmi Yamaha tersebut mengadakan test ride, serta sosialisasi tentang safety riding di hadapan ratusan siswa di sekolah tersebut. Sedangkan, sponsor yang lainnya seperti LPK Nusantara membuka bazar buku dan membagi beasiswa kursus di lembaga pendidikan komputer tersebut.
Meski lokasi sekolah tersebut berada di bawah Gunung Kapur Ciampea, namun, beberapa siswa yang ikut pelatihan sudah membawa laptop yang dilengkapi dengan modem. Suasana pelatihan semakin seru ketika mulai praktek pengambilan gambar dan praktek jadi presenter televisi. (affandi)
Narasumber dari media cetak adalah Asri Supatmiati, redaktur pelaksana Harian Radar Bogor dan M Affandi Kartodihardjo, pelaksana tugas pemimpin Redaksi Tabloid Sundaurang. Sedangkan materi yang berkaitan dengan media televisi dibawakan oleh Iwan Suryawan dari Indosiar dan Heru Yustanto dari MNC.
Para sponsor acara ini juga membuka stand dan game, seperti yang dilakukan Prihatin Motor. Diler resmi Yamaha tersebut mengadakan test ride, serta sosialisasi tentang safety riding di hadapan ratusan siswa di sekolah tersebut. Sedangkan, sponsor yang lainnya seperti LPK Nusantara membuka bazar buku dan membagi beasiswa kursus di lembaga pendidikan komputer tersebut.
Meski lokasi sekolah tersebut berada di bawah Gunung Kapur Ciampea, namun, beberapa siswa yang ikut pelatihan sudah membawa laptop yang dilengkapi dengan modem. Suasana pelatihan semakin seru ketika mulai praktek pengambilan gambar dan praktek jadi presenter televisi. (affandi)
Sabtu, 30 Oktober 2010
Roadshow Jurnalistik Media Cetak- Televisi
Roadshow Jurnalistik Media Cetak dan Televisi dimulai. Acara yg digelar tiap Sabtu di SMA-SMK tersebut dimulai kemarin (30/10) sampai akhir tahun. Sebuah acara yg unik, krn memadukan sebuah pelatihan dgn berbagai acara spt atraksi skateboard, dancer, band dan safety riding.
Yamaha sebagai sponsor utama acara ini juga menggelar berbagai game, begitu juga dengan sponsor yang lain seperti The Jugle. Bahlan. Carglos mendemokan produknya, Helm produknya dibanting-banting di lapangan beton, dan ternyata luar biasa. Helm tersebut tidak pecah. Bahkan, siapa pun yang ada di SMK Kosgoro Bogor (tempat pertama kali digelarnya roadshow) ditawari untuk membanting helm. Semuanya tidak bisa memecahkan helm tersebut. Bahkan, kacanya aja juga tidak pecah setelah diinjek-injek.
Sementara untuk pelatihan media cetak saya bersama Asri Supatmiati (Redpel Radar Bogor yg juga penulis buku The World of Me (GIP,2005), Married: Siap apa Pingin (Al-Azhar Press, 2005), , Bersiap jadi Ibu ((Al-Azhar Press, 2005), Cewek Buka-bukaan (Dar! Mizan, 2006), Cewek Ngomongin Virgin (GIP, 2007), Indonesia dalam Dekapan Syahwat (Alpen Prasa Publishing House, 2007).
Sedangkan media televisi, bertindak sebagai pembicara, Endang Gunawan dari Global TV dan Dedi dari Trans TV. Acara dibuka oleh Kasi Kesiswaan Dinas Pendidikan Kota Bogor Jajang Koswara. Setelah dari Kosgoro, tim roadshow akan melakukan kegiatan yg sama di SMA -10. (affandi)
Yamaha sebagai sponsor utama acara ini juga menggelar berbagai game, begitu juga dengan sponsor yang lain seperti The Jugle. Bahlan. Carglos mendemokan produknya, Helm produknya dibanting-banting di lapangan beton, dan ternyata luar biasa. Helm tersebut tidak pecah. Bahkan, siapa pun yang ada di SMK Kosgoro Bogor (tempat pertama kali digelarnya roadshow) ditawari untuk membanting helm. Semuanya tidak bisa memecahkan helm tersebut. Bahkan, kacanya aja juga tidak pecah setelah diinjek-injek.
Sementara untuk pelatihan media cetak saya bersama Asri Supatmiati (Redpel Radar Bogor yg juga penulis buku The World of Me (GIP,2005), Married: Siap apa Pingin (Al-Azhar Press, 2005), , Bersiap jadi Ibu ((Al-Azhar Press, 2005), Cewek Buka-bukaan (Dar! Mizan, 2006), Cewek Ngomongin Virgin (GIP, 2007), Indonesia dalam Dekapan Syahwat (Alpen Prasa Publishing House, 2007).
Sedangkan media televisi, bertindak sebagai pembicara, Endang Gunawan dari Global TV dan Dedi dari Trans TV. Acara dibuka oleh Kasi Kesiswaan Dinas Pendidikan Kota Bogor Jajang Koswara. Setelah dari Kosgoro, tim roadshow akan melakukan kegiatan yg sama di SMA -10. (affandi)
Kamis, 21 Oktober 2010
Ngamen Jurnalistik 2010
Setelah sukses menggelar Jurnalistik in Mall, kini, acara unik berkaitan dengan jurnalistik digelar kembali. Namanya, Ngamen Jurnalistik. Jika pada pelatihan-pelatihan sebelumnya, pesertanya disuruh datang ke suatu tempat, kini crew yang memberi pelatihanlah yang mendatangi audience.
Ada yang istimewa dalam acara ini, sebab, meski acaranya mirip ngamen, namun, bukan uang yang diharapkan dari target peserta. Sebab, pesertanya justru dimanja dengan berbagai hadiah, dan berapa pun pesertanya juga diberi sertifikat pelatihan secara gratis. Kok bisa?
Semuanya bisa terlaksana karena tim ngamen ini, juga membawa serta para sponsor. Untuk tahun ini, Yamaha, LP3I, Telkom, TBI (ada yang sudah pasti dan ada yg masih konfirmasi) masuk dalam tim Ngamen, bersama istruktur pelatihan Media Cetak dan Televisi mereka ikut ’Menggerebek’ audience. Untuk sementara, targetnya adalah SMA dan SMK yang ada di Bogor.
Pihak sekolah yang akan digrebek diberitahu dulu kalau tim pelatihan Jurnalistik Media Cetak dan Televisi akan mengunjungi sekolah tersebut. Pihak sekolah, hanya menyuruh siswanya ngumpul di aula. Bagi, yang ikut pelatihan dari awal sampai selesai diberi sertifikat pelatihan secara gratis.
Lantas, apakah semua siswa di sekolah tersebut diwajibkan ikut pelatihan? Tentu saja tidak. Sebab, minat siswa tidaklah sama. Bagi yang tidak ikut pelatihan, di luar ruangan yang masih dalam lingkungan sekolah tersebut digelar juga berbagai kegiatan. Pihak Yamaha misalnya, menggelar juga acara safety ridding dan service gratis. Sementara sponsor yang lain juga membuka stan untuk memamerkan produk terbarunya.
Pihak sekolah pun, jika tidak keberatan bisa menggabungkan acara ini dengan kegiatan pengembangan diri lainnya, seperti menggelar pentas seni. Bahkan, kalau dimungkinkan, sekalian mengundang orangtua para siswa agar mereka bisa melihat kalau di sekolah tempat anaknya menuntut ilmu tersebut ternyata penuh dengan kegiatan menarik dan mendidik. (affandi kartodihardjo)
Ada yang istimewa dalam acara ini, sebab, meski acaranya mirip ngamen, namun, bukan uang yang diharapkan dari target peserta. Sebab, pesertanya justru dimanja dengan berbagai hadiah, dan berapa pun pesertanya juga diberi sertifikat pelatihan secara gratis. Kok bisa?
Semuanya bisa terlaksana karena tim ngamen ini, juga membawa serta para sponsor. Untuk tahun ini, Yamaha, LP3I, Telkom, TBI (ada yang sudah pasti dan ada yg masih konfirmasi) masuk dalam tim Ngamen, bersama istruktur pelatihan Media Cetak dan Televisi mereka ikut ’Menggerebek’ audience. Untuk sementara, targetnya adalah SMA dan SMK yang ada di Bogor.
Pihak sekolah yang akan digrebek diberitahu dulu kalau tim pelatihan Jurnalistik Media Cetak dan Televisi akan mengunjungi sekolah tersebut. Pihak sekolah, hanya menyuruh siswanya ngumpul di aula. Bagi, yang ikut pelatihan dari awal sampai selesai diberi sertifikat pelatihan secara gratis.
Lantas, apakah semua siswa di sekolah tersebut diwajibkan ikut pelatihan? Tentu saja tidak. Sebab, minat siswa tidaklah sama. Bagi yang tidak ikut pelatihan, di luar ruangan yang masih dalam lingkungan sekolah tersebut digelar juga berbagai kegiatan. Pihak Yamaha misalnya, menggelar juga acara safety ridding dan service gratis. Sementara sponsor yang lain juga membuka stan untuk memamerkan produk terbarunya.
Pihak sekolah pun, jika tidak keberatan bisa menggabungkan acara ini dengan kegiatan pengembangan diri lainnya, seperti menggelar pentas seni. Bahkan, kalau dimungkinkan, sekalian mengundang orangtua para siswa agar mereka bisa melihat kalau di sekolah tempat anaknya menuntut ilmu tersebut ternyata penuh dengan kegiatan menarik dan mendidik. (affandi kartodihardjo)
Jumat, 07 Mei 2010
Catatan dari Seminar Jurnalistik di Mall
Catatan dari Seminar Jurnalistik di Mall
Terima kasih Samson, Tank's for Dewi-Dewi dan Haturnuhun untuk Rossa. Anda semua telah meringankan tugas saya saat di Ekalokasari Plassa. Tepatnya saat Seminar Jurnalistik di Mall.
Meski para artis papan atas tersebut hanya rekaman di flash disk yang saya ambil saat kantor saya (Radar Bogor) blocking time 1 jam di TV One waktu ultah ke-10 lalu, tapi ternyata cukup untuk memikat pengunjung mall untuk berhenti dan bergabung di seminar yang kebetulan saya jadi narasumber tunggal.
Bayangkan saja, pengunjung mall yang beraneka ragam itu mau duduk hampir 2 jam untuk mendengar dan mengikuti pelatihan jurnalistik yang termasuk 'asing' jika diselenggarakan di mall. Kalau di kampus, hotel atau di sekolahan sih biasa. Tapi di mall? Dengan target audience awal yang enggak jelas.
Awalnya, saya sendiri juga ragu. Tega-teganya, panitia Hari Pendidikan Nasional menawari saya seminar di tempat seperti itu. Tapi, saya anggap itu tantangan, dan tantangan baru harus dihadapi dengan ilmu yang baru pula. Hasilnya, memang cukup melegakan. Ada puluhan orang yang mau bertahan.
Tapi, kebanyakan yang bertahan sampai usai tersebut adalah anak-anak SMA, sebagian anak kuliahan ada juga dari LSM dan hadir juga Ibu Yenny Sahnaz, ibunda dari Satrio Wibowo, seorang penulis yang menyelesaikan novelnya dalam bahasa Inggris sebanyak 450 halaman kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan dengan judul THE CHRONICLES OF WILLY FLARKIES : Petualangan Memasuki Dunia Upside Down.”
Terimakasih semuanya, dan terima kasih pula kepada LP3I, sebagai salah satu sponsor acara tersebut yang bersedia memberikan sertifikat gratis kepada semua peserta yang bertahan hingga acara usai.
M Affandi Kartodihardjo
Redaktur Senior Radar Bogor/ Redpel Tabloid Sundaurang
Ketua Komisi Penerbitan dan Media Massa ICMI Orwil Bogor
Terima kasih Samson, Tank's for Dewi-Dewi dan Haturnuhun untuk Rossa. Anda semua telah meringankan tugas saya saat di Ekalokasari Plassa. Tepatnya saat Seminar Jurnalistik di Mall.
Meski para artis papan atas tersebut hanya rekaman di flash disk yang saya ambil saat kantor saya (Radar Bogor) blocking time 1 jam di TV One waktu ultah ke-10 lalu, tapi ternyata cukup untuk memikat pengunjung mall untuk berhenti dan bergabung di seminar yang kebetulan saya jadi narasumber tunggal.
Bayangkan saja, pengunjung mall yang beraneka ragam itu mau duduk hampir 2 jam untuk mendengar dan mengikuti pelatihan jurnalistik yang termasuk 'asing' jika diselenggarakan di mall. Kalau di kampus, hotel atau di sekolahan sih biasa. Tapi di mall? Dengan target audience awal yang enggak jelas.
Awalnya, saya sendiri juga ragu. Tega-teganya, panitia Hari Pendidikan Nasional menawari saya seminar di tempat seperti itu. Tapi, saya anggap itu tantangan, dan tantangan baru harus dihadapi dengan ilmu yang baru pula. Hasilnya, memang cukup melegakan. Ada puluhan orang yang mau bertahan.
Tapi, kebanyakan yang bertahan sampai usai tersebut adalah anak-anak SMA, sebagian anak kuliahan ada juga dari LSM dan hadir juga Ibu Yenny Sahnaz, ibunda dari Satrio Wibowo, seorang penulis yang menyelesaikan novelnya dalam bahasa Inggris sebanyak 450 halaman kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan dengan judul THE CHRONICLES OF WILLY FLARKIES : Petualangan Memasuki Dunia Upside Down.”
Terimakasih semuanya, dan terima kasih pula kepada LP3I, sebagai salah satu sponsor acara tersebut yang bersedia memberikan sertifikat gratis kepada semua peserta yang bertahan hingga acara usai.
M Affandi Kartodihardjo
Redaktur Senior Radar Bogor/ Redpel Tabloid Sundaurang
Ketua Komisi Penerbitan dan Media Massa ICMI Orwil Bogor
Minggu, 04 April 2010
Tidak ada Kata Lapar di Sunda
Saya adalah orang Jawa yang sudah 14 tahun hidup di Tatar Sunda, bahkan tidak itu saja. Saat ini oleh manajemen di kantor saya disuruh untuk terlibat dalam keredaksian sebuah tabloid yang 100 persen berbahasa Sunda. Nama tabloid itu adalah Sundaurang yang telah dilounching oleh Gubernur Jawa Barat sejak dua tahun lalu (tepatnya pada tanggal 2 Maret 2008 di lapangan parkir gedung Graha Pena Bogor.
Ada sebuah kata yang sampai saat ini sedang saya cari kemana-mana, dan belum ketemu sampai sekarang. Kata yang saya cari itu adalah kata LAPAR. Dari semua literatur yang telah kucari (mungkin memang belum ketemu) ataupun di kamus sunda, tidak ada kata yang artinya lapar.
Kalau di Jawa ada kata seperti luwe….., ngelih yang artinya lapar. Tapi kalau di sunda tidak ada kata yang spesifik berarti lapar, yang ada hanyalah kata yang mencerminkan atau mengarah pada istilah itu seperti hayang dahar (belum makan), can dulang (belum makan).
Mungkinkah para pendahulu di tanah sunda itu enggak pernah lapar dari dulunya? Sebab, di kanan kirinya tersedia tanaman, biji-bijian atau hewan yang bisa dimakan setiap saat? Benarkah demikian? Benarkah tidak ada kata Lapar di Sunda?
(affandi kartodihardjo)
Ada sebuah kata yang sampai saat ini sedang saya cari kemana-mana, dan belum ketemu sampai sekarang. Kata yang saya cari itu adalah kata LAPAR. Dari semua literatur yang telah kucari (mungkin memang belum ketemu) ataupun di kamus sunda, tidak ada kata yang artinya lapar.
Kalau di Jawa ada kata seperti luwe….., ngelih yang artinya lapar. Tapi kalau di sunda tidak ada kata yang spesifik berarti lapar, yang ada hanyalah kata yang mencerminkan atau mengarah pada istilah itu seperti hayang dahar (belum makan), can dulang (belum makan).
Mungkinkah para pendahulu di tanah sunda itu enggak pernah lapar dari dulunya? Sebab, di kanan kirinya tersedia tanaman, biji-bijian atau hewan yang bisa dimakan setiap saat? Benarkah demikian? Benarkah tidak ada kata Lapar di Sunda?
(affandi kartodihardjo)
Selasa, 29 September 2009
Catatan Reuni SMAN 1 Magetan Angkatan 1987
22 tahun merupakan waktu yang tidak sebentar, pantas saja jika teman-teman yang dulunya seksi-seksi dan langsing kini terlihat makin melar. Beberapa rekan wanita bahkan sudah tampak seperti ibu-ibu. Pertemuan mengharukan itu terjadi di Restoran Citra Mirasa Jalan Ahmad Yani Magetan. Di sanalah reuni SMA itu terjadi.
Saya sebagai salah satu alumni SMAN 1 Magetan lulusan tahun 1987 hadir di situ bersama tidak kurang dari 40 teman lama yang datang bersama keluarganya.Saya yang saat SMA adalah seorang yang biasa-biasa saja mendapat dua kali kesempatan maju ke depan karena masuk nominasi menjadi orang yang berat badanya nambah lebih dari 30 kilogram.
Meski berat badan nambah segitu tetap saja kalah dengan yang lain, sebab, Prapto teman sekelasku dulu yang sering dipanggil Sinyo ternyata badannya melar jauh lebih banyak. Akhirnya dialah yang jadi pemenang
Begitu juga saat maju yang kedua. Saat itu saya dianggap memiliki anak yang paling banyak. Maklum, anak saya sudah empat, dua laki-laki dan dua perempuan. Sama dengan babak pertama, saya ternyata kalah lagi dengan Agus Tutut Gudianto yang memiliki enam orang anak (hanya saja yang dua sudah meninggal) dan dia juga memiliki anak angkat.
Beberapa permainan yang semuanya fun juga digelar. Salah satunya adalah orang-orang yang wajahnya tidak berubah, meski sudah 22 tahun berlalu. Ada empat orang yang maju ke depan yakni Nana, Yuni, Kamto dan Agus Jadmiko. Dan seperti bisa ditebak, Jadmikolah yang menang karena wajah memang awet tua. “Saya ini bukannya awet muda, tapi dari dulu wajah saya ini adalah tua seperti ini,” katanya yang langsung disambut tawa oleh semua rekan yang hadir.
Acara yang digelar di kampung halaman itu sangat berkesan, karena saya ketemu lagi dengan Leo Herlambang yang waktu di kelas 1 SMP Negeri 1 duduk satu bangku, dan pernah satu kelas waktu di SMA Negeri 1, bahkan, dia pernah menjadi teman satu kamar selama 4,5 tahun waktu kuliah di Malang. Untuk itu, kepada para pemrakarsa reuni tersebut saya ucapkan banyak terima kasih. Khususnya kepada Ugiek Susilowati, Marsudi, Agus, Bambang, Nurul, Eko Siwi, Yuni, Ruli, Roseno, Bambang, Hari, Kamto, Alice, dan teman -teman yang lain.
Mudah-mudahan catatan sederhana ini bisa mengingatkan lagi kenangan lama. Semoga diberkahi. (affandi)
Saya sebagai salah satu alumni SMAN 1 Magetan lulusan tahun 1987 hadir di situ bersama tidak kurang dari 40 teman lama yang datang bersama keluarganya.Saya yang saat SMA adalah seorang yang biasa-biasa saja mendapat dua kali kesempatan maju ke depan karena masuk nominasi menjadi orang yang berat badanya nambah lebih dari 30 kilogram.
Meski berat badan nambah segitu tetap saja kalah dengan yang lain, sebab, Prapto teman sekelasku dulu yang sering dipanggil Sinyo ternyata badannya melar jauh lebih banyak. Akhirnya dialah yang jadi pemenang
Begitu juga saat maju yang kedua. Saat itu saya dianggap memiliki anak yang paling banyak. Maklum, anak saya sudah empat, dua laki-laki dan dua perempuan. Sama dengan babak pertama, saya ternyata kalah lagi dengan Agus Tutut Gudianto yang memiliki enam orang anak (hanya saja yang dua sudah meninggal) dan dia juga memiliki anak angkat.
Beberapa permainan yang semuanya fun juga digelar. Salah satunya adalah orang-orang yang wajahnya tidak berubah, meski sudah 22 tahun berlalu. Ada empat orang yang maju ke depan yakni Nana, Yuni, Kamto dan Agus Jadmiko. Dan seperti bisa ditebak, Jadmikolah yang menang karena wajah memang awet tua. “Saya ini bukannya awet muda, tapi dari dulu wajah saya ini adalah tua seperti ini,” katanya yang langsung disambut tawa oleh semua rekan yang hadir.
Acara yang digelar di kampung halaman itu sangat berkesan, karena saya ketemu lagi dengan Leo Herlambang yang waktu di kelas 1 SMP Negeri 1 duduk satu bangku, dan pernah satu kelas waktu di SMA Negeri 1, bahkan, dia pernah menjadi teman satu kamar selama 4,5 tahun waktu kuliah di Malang. Untuk itu, kepada para pemrakarsa reuni tersebut saya ucapkan banyak terima kasih. Khususnya kepada Ugiek Susilowati, Marsudi, Agus, Bambang, Nurul, Eko Siwi, Yuni, Ruli, Roseno, Bambang, Hari, Kamto, Alice, dan teman -teman yang lain.
Mudah-mudahan catatan sederhana ini bisa mengingatkan lagi kenangan lama. Semoga diberkahi. (affandi)
Sabtu, 18 April 2009
Dewi Pandji dan ‘Jalan Panjang Bogor ‘
Dewi Pandji dan ‘Jalan Panjang Bogor ‘
Ingin tahu anak-anak Bogor jaman dahulu kalau lagi hang out? Di manakah mereka? Lantas, hiburan apa saja yang ada waktu itu? Tempat wisata kuliner saat itu? Pertanyaan-pertanya an yang membuat orang penasaran ini akan mendapatkan jawabannya di Buku Jalan Panjang Bogor yang ditulis oleh Dewi Pandji.
Mantan wartawati LKBN Antara ini telah memberikan jalan bagi warga Bogor masa kini yang ingin mengetahui Bogor di masa lalu. Lewat ‘jalan’ yang dibuat oleh Dewi ini cukup untuk melihat Bogor di masa lampau. Sebab, literatur-literatur tentang Bogor di masa lalu bisa diterjemahkan oleh Dewi dalam bahasa yang mudah dimengerti.
Buku-buku lama yang kalau dibaca langsung terasa berat, bisa disajikan kembali oleh istri mantan Wakapolri ini dengan bahasa ringan dan mengalir lewat tulisan populernya. Apalagi juga dilengkapi dengan hasil investigasi dan reportase yang cukup dalam dengan beberapa tokoh Bogor yang saat ini masih ada.
Sesuai dengan judulnya, Jalan Panjang Bogor, menyajikan cukup lengkap Bogor tempo dulu, bernostalgia tentang Bogor yang pernah menjadi surganya pemerintah Belanda, lalu disandingkan dengan Bogor saat ini yang tentunya sudah jauh berbeda.
Beberapa kawasan seperti Sempur, Lawangsaketeng, Empang, Stasiun, Kebon Kembang, Jembatan Merah dan beberpa lokasi strategis lainnya dibahas, lengkap dengan foto hitam putih jaman dulu dan disandingkan dengan foto-foto kondisi mutakhir .
Hanya dengan membaca buku tersebut, Bogor tempo dulu seakan dekat. Salah satu contohnya adalah Kantor Polwil yang sekarang ini ada, ternyata dulunya adalah Hotel Du Chemin De Fer, orang Bogor tempo dulu menyebutnya Semin Defer yang dijadikan tempat persinggahan Gubernur Jenderal VOC yang senang sekali memakai perjalanan kereta api dari Batavia ke Bandung via Bogor. Di hotel Du Chemin yang sekarang menjadi kantor Polwil Bogor itulah sang Gubernur itu beristirahat.
Begitu juga dengan bulevardnya jaman Belanda, yakni Groote Post Weg yang sekarang berubah menjadi Jalan Juanda yang terbentang mulai dari depan Istana Bogor sampai ke depan kantor pos, disitu ada rumah sakit milik angkatan darat yang dulu terkenal dengan nama Millitere Hospital lalu menjadi rumah sakit Salak, ada kantor CPM, sekolah katolik Regina Pacis yang dulu bernama Klooster.
Tempat-tempat lawas yang masih dikenang itu juga diungkapkan lewat buku tersebut, seperti Rumah Sakit PMI yang dibangun pada 1931, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi yang berdiri sejak 1882, Pesantren Al Falak, Binnenhof Hotel (Hotel Salak) sejak tahun 1856, Hotel Pasar Baru yang berdiri sejak 1850 yang kondisinya saat ini memprihatinkan.
Dalam buku setebal 161 halaman tersebut dungkapkan pula tentang kilas balik tempo dulu bahwa tatar Pasundan khususnya di sekitar Bogor yang disebut dengan Pakuan tidak hanya berupa lahan, tapi juga kenangan. ‘Lahannya’ dihidupkan kembali, tetapi kerajaannya takkan kembali. Inilah yang disenandungkan oleh para pujangga dalam karyanya setiap kali gema Pajajaran menyentuh hati mereka.
Kedekatan batin budayawan terhadap Pajajaran ini akhirnya menimbulkan gagasan Pajajaran ngahiang atau Pajajaran tilem. Pakuan hanya ngahiang, Pajajaran heunteu sirna tapi tilem ngawungawun, kata orang-orang tua yang tidak mau kehilangan Pajajarannya.
Lewat bukunya, Dewi Pandji memberikan gambaran bahwa Bogor yang multi etnis adalah kota yang sangat terbuka dan sudah melaksanakan pembauran sejak dulu kala. Mulai dari pembauran Tinghoa Sunda, Arab Sunda, India Sunda.
Menariknya, buku tersebut juga menyajikan mimpi-mimpi orang Bogor saat ini tentang kehidupan di Bogor di masa depan. Dari situ dilihat tentang impian menjadikan Bogor yang nyaman, dengan angkutan monorel mengelilingi kota, ada danau di tengah kota dan ada pula sajian wisata unik dengan keliling Bogor dari udara. (affandi kartodihardjo)
Ingin tahu anak-anak Bogor jaman dahulu kalau lagi hang out? Di manakah mereka? Lantas, hiburan apa saja yang ada waktu itu? Tempat wisata kuliner saat itu? Pertanyaan-pertanya an yang membuat orang penasaran ini akan mendapatkan jawabannya di Buku Jalan Panjang Bogor yang ditulis oleh Dewi Pandji.
Mantan wartawati LKBN Antara ini telah memberikan jalan bagi warga Bogor masa kini yang ingin mengetahui Bogor di masa lalu. Lewat ‘jalan’ yang dibuat oleh Dewi ini cukup untuk melihat Bogor di masa lampau. Sebab, literatur-literatur tentang Bogor di masa lalu bisa diterjemahkan oleh Dewi dalam bahasa yang mudah dimengerti.
Buku-buku lama yang kalau dibaca langsung terasa berat, bisa disajikan kembali oleh istri mantan Wakapolri ini dengan bahasa ringan dan mengalir lewat tulisan populernya. Apalagi juga dilengkapi dengan hasil investigasi dan reportase yang cukup dalam dengan beberapa tokoh Bogor yang saat ini masih ada.
Sesuai dengan judulnya, Jalan Panjang Bogor, menyajikan cukup lengkap Bogor tempo dulu, bernostalgia tentang Bogor yang pernah menjadi surganya pemerintah Belanda, lalu disandingkan dengan Bogor saat ini yang tentunya sudah jauh berbeda.
Beberapa kawasan seperti Sempur, Lawangsaketeng, Empang, Stasiun, Kebon Kembang, Jembatan Merah dan beberpa lokasi strategis lainnya dibahas, lengkap dengan foto hitam putih jaman dulu dan disandingkan dengan foto-foto kondisi mutakhir .
Hanya dengan membaca buku tersebut, Bogor tempo dulu seakan dekat. Salah satu contohnya adalah Kantor Polwil yang sekarang ini ada, ternyata dulunya adalah Hotel Du Chemin De Fer, orang Bogor tempo dulu menyebutnya Semin Defer yang dijadikan tempat persinggahan Gubernur Jenderal VOC yang senang sekali memakai perjalanan kereta api dari Batavia ke Bandung via Bogor. Di hotel Du Chemin yang sekarang menjadi kantor Polwil Bogor itulah sang Gubernur itu beristirahat.
Begitu juga dengan bulevardnya jaman Belanda, yakni Groote Post Weg yang sekarang berubah menjadi Jalan Juanda yang terbentang mulai dari depan Istana Bogor sampai ke depan kantor pos, disitu ada rumah sakit milik angkatan darat yang dulu terkenal dengan nama Millitere Hospital lalu menjadi rumah sakit Salak, ada kantor CPM, sekolah katolik Regina Pacis yang dulu bernama Klooster.
Tempat-tempat lawas yang masih dikenang itu juga diungkapkan lewat buku tersebut, seperti Rumah Sakit PMI yang dibangun pada 1931, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi yang berdiri sejak 1882, Pesantren Al Falak, Binnenhof Hotel (Hotel Salak) sejak tahun 1856, Hotel Pasar Baru yang berdiri sejak 1850 yang kondisinya saat ini memprihatinkan.
Dalam buku setebal 161 halaman tersebut dungkapkan pula tentang kilas balik tempo dulu bahwa tatar Pasundan khususnya di sekitar Bogor yang disebut dengan Pakuan tidak hanya berupa lahan, tapi juga kenangan. ‘Lahannya’ dihidupkan kembali, tetapi kerajaannya takkan kembali. Inilah yang disenandungkan oleh para pujangga dalam karyanya setiap kali gema Pajajaran menyentuh hati mereka.
Kedekatan batin budayawan terhadap Pajajaran ini akhirnya menimbulkan gagasan Pajajaran ngahiang atau Pajajaran tilem. Pakuan hanya ngahiang, Pajajaran heunteu sirna tapi tilem ngawungawun, kata orang-orang tua yang tidak mau kehilangan Pajajarannya.
Lewat bukunya, Dewi Pandji memberikan gambaran bahwa Bogor yang multi etnis adalah kota yang sangat terbuka dan sudah melaksanakan pembauran sejak dulu kala. Mulai dari pembauran Tinghoa Sunda, Arab Sunda, India Sunda.
Menariknya, buku tersebut juga menyajikan mimpi-mimpi orang Bogor saat ini tentang kehidupan di Bogor di masa depan. Dari situ dilihat tentang impian menjadikan Bogor yang nyaman, dengan angkutan monorel mengelilingi kota, ada danau di tengah kota dan ada pula sajian wisata unik dengan keliling Bogor dari udara. (affandi kartodihardjo)
Jumat, 10 April 2009
Jumat Ke 3 di Situ Gintung
Jumat Ke 3 di Situ Gintung
Subhanallah, Jumat 10 April 2009, aku bisa sholat jumat di Masjid yang tidak tergoyahkan saat Situ Gintung Jebol. Jumat itu adalah Jumat ke 3 paska jebolnya tanggul yang membawa korban tewas 99 orang dan meluluhlantakkan rumah-rumah di sekitarnya.
Saya juga sempat berpelukan dengan Miftah, yang saat jebolnya tanggul dia lagi adzan shubuh di Masjid Jabalurrahman. Ya Adzan subuh yang tidak tuntas. Sebab, sampai pada lafadz Hayya Allasholla....dan mau melanjutkan ke Hayya Allalffala... suara gemuruh dari arah tanggul terdengar, air pun mulai masuk dan dia berlari ke tempat yang lebih tinggi.
Begitu juga dengan Romli,yang biasa menjadi imam di masjid tersebut. Saat itu, dia lagi ambil wudlu untuk siap-siap sholat. Melihat teman-temannya lari ke atas, Romli ikut naik meninggalkan masjid yang mulai dikerumuni air.
Miftah, Romli dan dua rekannya yang lain yakni Wisnu dan Iskandar adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri (dulu IAIN) Jakarta, mereka memang tinggal di lantai 2 Masjid. Tiap hari, jika tidak ada kuliah mereka ngajar ngaji sekaligus ngurus masjid itu.
Semua pengurus masjid dan orang-orang yang biasa bangun pagi untuk sholat subuh di masjid itu selamat. Termasuk Masjid Jabalurrahman.
Di Jumat ketiga setelah tragedi tersebut, Masjid Jabalurrahman sudah terlihat rapi. Dinding, atap, pintu sudah dicat ulang oleh para relawan. Bahkan, buku-buku dan AlQuran yang dulunya hilang sudah diisi kembali oleh Cut Putri, dari Yayasan Gema Al Qur'an.
Saya sendiri bersama pengurus ICMI Orwil Bogor yakni Prof Dr Bintoro (Ketua ICMI Bogor), Abidin Said (salah seorang komisaris bank sariah), Rais Ahmad (mantan rektor UIKA yang juga besannya Pak AM Saeffudin), Suherlan ( Ketua Majelis Sinergi Kalam ) menyumbang ala kadarnya. Bentuknya sih uang tunai yang dikumpulkan dari pengurus ICMI.
Semuanya berharap agar korban Situ Gintung cepat pulih, dan bagi yang meninggal semoga arwahnya diterima disisinya.
(affandi)
Subhanallah, Jumat 10 April 2009, aku bisa sholat jumat di Masjid yang tidak tergoyahkan saat Situ Gintung Jebol. Jumat itu adalah Jumat ke 3 paska jebolnya tanggul yang membawa korban tewas 99 orang dan meluluhlantakkan rumah-rumah di sekitarnya.
Saya juga sempat berpelukan dengan Miftah, yang saat jebolnya tanggul dia lagi adzan shubuh di Masjid Jabalurrahman. Ya Adzan subuh yang tidak tuntas. Sebab, sampai pada lafadz Hayya Allasholla....dan mau melanjutkan ke Hayya Allalffala... suara gemuruh dari arah tanggul terdengar, air pun mulai masuk dan dia berlari ke tempat yang lebih tinggi.
Begitu juga dengan Romli,yang biasa menjadi imam di masjid tersebut. Saat itu, dia lagi ambil wudlu untuk siap-siap sholat. Melihat teman-temannya lari ke atas, Romli ikut naik meninggalkan masjid yang mulai dikerumuni air.
Miftah, Romli dan dua rekannya yang lain yakni Wisnu dan Iskandar adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri (dulu IAIN) Jakarta, mereka memang tinggal di lantai 2 Masjid. Tiap hari, jika tidak ada kuliah mereka ngajar ngaji sekaligus ngurus masjid itu.
Semua pengurus masjid dan orang-orang yang biasa bangun pagi untuk sholat subuh di masjid itu selamat. Termasuk Masjid Jabalurrahman.
Di Jumat ketiga setelah tragedi tersebut, Masjid Jabalurrahman sudah terlihat rapi. Dinding, atap, pintu sudah dicat ulang oleh para relawan. Bahkan, buku-buku dan AlQuran yang dulunya hilang sudah diisi kembali oleh Cut Putri, dari Yayasan Gema Al Qur'an.
Saya sendiri bersama pengurus ICMI Orwil Bogor yakni Prof Dr Bintoro (Ketua ICMI Bogor), Abidin Said (salah seorang komisaris bank sariah), Rais Ahmad (mantan rektor UIKA yang juga besannya Pak AM Saeffudin), Suherlan ( Ketua Majelis Sinergi Kalam ) menyumbang ala kadarnya. Bentuknya sih uang tunai yang dikumpulkan dari pengurus ICMI.
Semuanya berharap agar korban Situ Gintung cepat pulih, dan bagi yang meninggal semoga arwahnya diterima disisinya.
(affandi)
Selasa, 24 Maret 2009
Kolaborasikan Tulisan dan Musik jadi Islamic Musik Book
Sebuah mukjizat sholawat. Itulah judul buku terbaru yang ditulis teman saya Indrya R Dani. Meski bukunya terbilang tipis, tapi dia berhasil mengkolaborasikan tulisan dan musik menjadi Islamic Musik Book. Berikut ini adalah tulisan saya yang telah dimuat Harian Radar Bogor 22 Maret 2009 lalu.
Indrya R Dani memberikan warna baru dunia tulis menulis di tanah air. Penulis yang kini tinggal di Kawasan Indraprasta 2 Kota Bogor ini berhasil menggabungkan tulisan di buku dengan musik dan lagu. Lewat bukunya ‘Mukjizat Shalawat’, Indrya menggabungkan antara naskah, musik dan lagu. Dia pula yang menulis scrip naskah di CD. Bahkan sampainya nyanyiannya segala.
GABUNGAN dari semua talenta yang dimiliki Indrya memang terlihat pada penerbitan buku terbarunya tersebut. Dalam buku Mukjizat Sholawat yang ditulis bersama Habib Abdullah Assegaf LC MA ini, Indrya menyusun secara terencana antara tulisan, musik, lagu dan tulisan scrip yang dikemas dalam buku berbonus CD.
Buku Mukjizat Sholawat yang diterbitkan oleh Qultum Media ini merupakan buku kedua yang ditulisnya. Buku pertamanya, yakni ‘Panduan Pintar Haji & Umroh’ yang diterbitkan oleh Qultum Media sudah cetak ulang. Bahkan, saat ini sedang proses copyright oleh Penerbit Malaysia. Beberapa judul buku lainnya yang kini sedang dalam proses adalah “ Fashion Journeys: Travel In Style For Muslimah “ di penerbit Gramedia, dan buku berjudul “ The Young CEO Stories “ dan “ Ragam Abaya “, saat ini sedang proses diterbitkan oleh SAS Press
Penulis yang satu ini memang agak beda dengan penulis umumnya. Dia suka traveling, sehingga ide dan waktu menulisnya sering muncul saat melakukan perjalanan. “Waktu bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, di pesawat aku sering habiskan dengan menulis,” katanya.
Bahkan, saat menulis di rumah pun, ketika ide lagi enggak dapat, Indrya pergi sendirian mengendarai mobil Nisan Terano ke tol Jagorawi, setelah menyusuri tol dan melihat pemandangan hijau di sekitar tol, begitu masuk Jakarta, dia balik lagi ke Bogor. Sampai di rumah langsung duduk di depan komputer. Kalau sudah begitu, bisa berjam-jam waktunya, bahkan sampai lupa makan apalagi tidur.
Indrya mengaku kalau fokus menulis setelah pulang haji. Saat berhaji, dia merasa takjub bertemu dengan jutaan muslim dari berbagai negara. Saat itu dia berkeinginan menjalin hubungan dengan sesama muslim antarnegara tersebut. Jalan satu-satunya ya lewat buku. Agar mudah dipahami dan menambah daya tarik pembaca antarnegara, Indrya menyisipkan unsur musik dan lagu dalam karyanya.. “Lewat islamic music book inilah, saya berharap dapat bersilaturahim dengan sesama muslim di mana pun, mengantar untaian lirik dan nada sebagai penyambung dan pengambaran akan keindahan seni, budaya dan masyarakat Islam,” katanya.
Agar lagu dan liriknya bisa diterima semua kalangan, Indrya terus belajar,belajar, dan belajar. Dia gemar membaca buku terutama buku-buku sejarah masa lalu. Dia juga melihat, mendengar, mempelajari bahasa masyarakat Islam, bahkan mencari dan mempelajari manusript aransemen seniman Islam terdahulu seperti ZIRYAb & FARABI, mencari dan mempelajari syair puisi klasik terutama SUFI.
Selain belajar dia juga bertanya pada ustad, ustazah, ulama, sastrawan muslim dan melakukan berbagai kegiatan untuk memperkaya bathin dan wawasan. Setelah itu baru berkolaborasi dan bersinergi dengan para aranger, musisi untuk memperindah karya bernuansa Islam.
Contoh kolaborasi Indrya dengan arager dan musisi ini bisa dilihat dalam buku Mukjizat Sholawat yang ditulisnya. Dalam buku setebal 115 halaman tersebut diberi pengantar oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin M Sc, Direktur Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Dalam buku tersebut diungkapkan bagaimana dahsyatnya shalawat serta berbagai contoh shalawat nabi dengan berbagai macam dalil yang komplet.
Lewat karyanya tersebut, Indrya yang dikenal juga sebagai icon model busana Pilgrim dan beberapa iklan layanan masyarakat bersama Ustad Subki Al Bhuquri serta presenter TV Program Islami seperti: Teletilawah, Mutiara Jum’at, Magsaba, JUITA di TVRI tersebut telah membuktikan bahwa buku bisa dikolaborasikan dengan musik dan lagu. (affandi kartodihardjo).
Indrya R Dani memberikan warna baru dunia tulis menulis di tanah air. Penulis yang kini tinggal di Kawasan Indraprasta 2 Kota Bogor ini berhasil menggabungkan tulisan di buku dengan musik dan lagu. Lewat bukunya ‘Mukjizat Shalawat’, Indrya menggabungkan antara naskah, musik dan lagu. Dia pula yang menulis scrip naskah di CD. Bahkan sampainya nyanyiannya segala.
GABUNGAN dari semua talenta yang dimiliki Indrya memang terlihat pada penerbitan buku terbarunya tersebut. Dalam buku Mukjizat Sholawat yang ditulis bersama Habib Abdullah Assegaf LC MA ini, Indrya menyusun secara terencana antara tulisan, musik, lagu dan tulisan scrip yang dikemas dalam buku berbonus CD.
Buku Mukjizat Sholawat yang diterbitkan oleh Qultum Media ini merupakan buku kedua yang ditulisnya. Buku pertamanya, yakni ‘Panduan Pintar Haji & Umroh’ yang diterbitkan oleh Qultum Media sudah cetak ulang. Bahkan, saat ini sedang proses copyright oleh Penerbit Malaysia. Beberapa judul buku lainnya yang kini sedang dalam proses adalah “ Fashion Journeys: Travel In Style For Muslimah “ di penerbit Gramedia, dan buku berjudul “ The Young CEO Stories “ dan “ Ragam Abaya “, saat ini sedang proses diterbitkan oleh SAS Press
Penulis yang satu ini memang agak beda dengan penulis umumnya. Dia suka traveling, sehingga ide dan waktu menulisnya sering muncul saat melakukan perjalanan. “Waktu bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, di pesawat aku sering habiskan dengan menulis,” katanya.
Bahkan, saat menulis di rumah pun, ketika ide lagi enggak dapat, Indrya pergi sendirian mengendarai mobil Nisan Terano ke tol Jagorawi, setelah menyusuri tol dan melihat pemandangan hijau di sekitar tol, begitu masuk Jakarta, dia balik lagi ke Bogor. Sampai di rumah langsung duduk di depan komputer. Kalau sudah begitu, bisa berjam-jam waktunya, bahkan sampai lupa makan apalagi tidur.
Indrya mengaku kalau fokus menulis setelah pulang haji. Saat berhaji, dia merasa takjub bertemu dengan jutaan muslim dari berbagai negara. Saat itu dia berkeinginan menjalin hubungan dengan sesama muslim antarnegara tersebut. Jalan satu-satunya ya lewat buku. Agar mudah dipahami dan menambah daya tarik pembaca antarnegara, Indrya menyisipkan unsur musik dan lagu dalam karyanya.. “Lewat islamic music book inilah, saya berharap dapat bersilaturahim dengan sesama muslim di mana pun, mengantar untaian lirik dan nada sebagai penyambung dan pengambaran akan keindahan seni, budaya dan masyarakat Islam,” katanya.
Agar lagu dan liriknya bisa diterima semua kalangan, Indrya terus belajar,belajar, dan belajar. Dia gemar membaca buku terutama buku-buku sejarah masa lalu. Dia juga melihat, mendengar, mempelajari bahasa masyarakat Islam, bahkan mencari dan mempelajari manusript aransemen seniman Islam terdahulu seperti ZIRYAb & FARABI, mencari dan mempelajari syair puisi klasik terutama SUFI.
Selain belajar dia juga bertanya pada ustad, ustazah, ulama, sastrawan muslim dan melakukan berbagai kegiatan untuk memperkaya bathin dan wawasan. Setelah itu baru berkolaborasi dan bersinergi dengan para aranger, musisi untuk memperindah karya bernuansa Islam.
Contoh kolaborasi Indrya dengan arager dan musisi ini bisa dilihat dalam buku Mukjizat Sholawat yang ditulisnya. Dalam buku setebal 115 halaman tersebut diberi pengantar oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin M Sc, Direktur Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Dalam buku tersebut diungkapkan bagaimana dahsyatnya shalawat serta berbagai contoh shalawat nabi dengan berbagai macam dalil yang komplet.
Lewat karyanya tersebut, Indrya yang dikenal juga sebagai icon model busana Pilgrim dan beberapa iklan layanan masyarakat bersama Ustad Subki Al Bhuquri serta presenter TV Program Islami seperti: Teletilawah, Mutiara Jum’at, Magsaba, JUITA di TVRI tersebut telah membuktikan bahwa buku bisa dikolaborasikan dengan musik dan lagu. (affandi kartodihardjo).
Minggu, 25 Januari 2009
Surat untuk Tuan Obama
Pidato Obama mengecewakan? Mengecewakan Siapa? Kecewa itu batu ujinya apa? Tidak jelas khan ukurannya? yang pasti-pasti aja lah!
Lewat blog ini saya ingin menyarankan kepada Tuan Obama. (Tidak tanggung-tanggung, yang saya sarankan adalah presiden Amerika, padahal saya pernah memberi saran ke kepala desa di dekat rumah saya saja tidak digubris.)
Kebetulan dia ngerti bahasa Indonesia karena dia dulu pernah tinggal di Menteng, eh bukan Menteng, tapi Menteng Dalem. Sekali lagi, Menteng Dalem (below Menteng). Dan, jangan salah, orang Amerika tahu isi tulisan ini. Sebab, dari sisi IT mereka jagonya, apalagi yang menyangkut Amerika yang mengaku sebagai polisi dunia.
Tuan Obama!
Anda adalah orang baru di suatu sistem yang sudah terbentuk ratusan tahun. Meski Anda menjadi orang yang menentukan dalam jalannya sistem tersebut, tapi, tentu tidak bisa mengubahnya dengan mudah. Coba saja kalau berani! Coba saja menghentikan roda mobil yang telah berputar kencang pakai tangan Anda. Pasti tangan Anda kalah.
Pidato Anda 20 Januari lalu memang berusaha merangkul semua kalangan, itulah langkah cerdas Anda. Tunggu saja putaran roda mobil sampai pada kecepatan tertentu yang bisa Anda kendalikan. Lalu, masukkan titipan penyelamatan nyawa orang-orang yang tidak berdosa di daerah Gaza atau daerah lainnya. Tapi, tentu dengan cara yang hati-hati. Sebab, sistem Amerika sudah terbiasa budek terhadap kepentingan orang yang tidak berkaitan dengan kepentingannya.
Ini saran singkat saya. Kalau sempat ke Indonesia mampir ke Bogor ya. Presiden Bush juga sempat main ke Bogor, tapi sepulang dari Istana Bogor, nasibnya sial terus.
He he he .....
Terima Kasih
Affandi Kartodihardjo
http://berkahmenuli s.blogspot. com
Lewat blog ini saya ingin menyarankan kepada Tuan Obama. (Tidak tanggung-tanggung, yang saya sarankan adalah presiden Amerika, padahal saya pernah memberi saran ke kepala desa di dekat rumah saya saja tidak digubris.)
Kebetulan dia ngerti bahasa Indonesia karena dia dulu pernah tinggal di Menteng, eh bukan Menteng, tapi Menteng Dalem. Sekali lagi, Menteng Dalem (below Menteng). Dan, jangan salah, orang Amerika tahu isi tulisan ini. Sebab, dari sisi IT mereka jagonya, apalagi yang menyangkut Amerika yang mengaku sebagai polisi dunia.
Tuan Obama!
Anda adalah orang baru di suatu sistem yang sudah terbentuk ratusan tahun. Meski Anda menjadi orang yang menentukan dalam jalannya sistem tersebut, tapi, tentu tidak bisa mengubahnya dengan mudah. Coba saja kalau berani! Coba saja menghentikan roda mobil yang telah berputar kencang pakai tangan Anda. Pasti tangan Anda kalah.
Pidato Anda 20 Januari lalu memang berusaha merangkul semua kalangan, itulah langkah cerdas Anda. Tunggu saja putaran roda mobil sampai pada kecepatan tertentu yang bisa Anda kendalikan. Lalu, masukkan titipan penyelamatan nyawa orang-orang yang tidak berdosa di daerah Gaza atau daerah lainnya. Tapi, tentu dengan cara yang hati-hati. Sebab, sistem Amerika sudah terbiasa budek terhadap kepentingan orang yang tidak berkaitan dengan kepentingannya.
Ini saran singkat saya. Kalau sempat ke Indonesia mampir ke Bogor ya. Presiden Bush juga sempat main ke Bogor, tapi sepulang dari Istana Bogor, nasibnya sial terus.
He he he .....
Terima Kasih
Affandi Kartodihardjo
http://berkahmenuli s.blogspot. com
Sabtu, 18 Oktober 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

